~Gebetan Untuk Teman~
It`s bad day!!! Aku terus saja meneriakkan kalimat itu berulang kali.aku benci hari ini. Gelora amarah ini muncul tiba-tiba saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.sudah lama aku menaruh hati pada teman sekelasku dan hari ini aku baru menyadari dia menyukai temanku sendiri, Alina.
Bayangkan saja betapa sakitnya hati ini. Aku tidak menyangka kalau hari itu akan menjadi hari yang buruk bagiku. Ternyata hari itu Reo (gebetanku) menyatakan cinta pada alina di depan mataku sendiri. Akulah orang pertama yang tahu hal itu. Aku sudah menjadi saksi cinta gebetanku sendiri. Ini mimpi buruk!
***
“Nara!” suara manis itu memanggilku. Sisi yang manis adalah sahabat spontanku. Lucu juga sih kalo sahabat ada yang spontan. Dalam waktu yang singkat aku dan sisi bisa jadi sahabat baik.
“Nar, kamu udah denger kalo Alina jadian sama Reo?” Oye? Penting y? basi!! Teriakku dalam hati.
“First person…!” kataku setengah berteriak.
Sisi mengerutkan keningnya. “Sayangku, gue adalah orang pertama yang tahu hal itu.”
Aku mencoba menyembunyikan rasa kecewaku dalam-dalam. Sejak kejadian kemarin, aku bertekad untuk maju dan terus maju. Cowok itu kan banyak. Toh Reo nggak perfect-perfect banget. Lagipula Sisi nggak boleh tau kalau aku naksir Reo. Jangan sampe!
Aku adalah gadis paling menderita diantara gadis-gadis di sekitarku. Kadang aku suka minder bergaul dengan mereka, apalagi Sisi lebih banyak menghabiskan waktunya dengan cowok daripada cewek. Mungkin aku satu-satunya sahabat cewek yang ia punya, sisanya cowok semua.
Sejak aku tau kalau gebetanku jadian sama Alina. Aku memutuskan nggak ingin mandang tampang cute-nya Reo saat jam pelajaran. Itu biasa aku lakukan sebelum aku tahu dia sukanya sama Alina. Aku sangat bermasalah. Apa aku benar-benar jelek? Andai saja aku memiliki bermiliyar uang, pasti aku akan menjalankan perubahan diri seperti artis-artis lakukan untuk mempercantik dirinya. Ah… aku memang bodoh. Aku tidak pernah bersyukur. Wajahku cukup manis kok. Apa aku perlu masuk kontak jodoh karena belum pernah menikmati pacaran seumur hidupku. Grazy!
***
Aku tambah down ketika hari ini saat memeriksakan mataku yang bermasalah. Aku harus menggunakan kacamata. Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang Kau berikan untuk cewek buruk rupa ini?
Mata ku memang benar-benar rusak, aku memang sedang buta. Tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang sudah jelas-jelas aku tahu dia berjalan ke arahku. Dasar bodoh aku ini. Bukan aku, tapi mata ini. “Sory… sory… sory banget ya…?”
Aku benar-benar terkejut, dia Vino cowok pendiam dan culun yang pernah sekelas denganku saat kelas 1. tapi kenapa dia berubah drastis. Kali ini dia terlihat ganteng. Aku baru sadar saat aku tahu Vino sudah tidak ada dihadapanku lagi.
***
Setengah tahun berlalu. Sekarang aku sudah duduk di kelas 3 SMA. Akhirnya, aku bisa sekelas lagi dengan Vino. Masih ingat kan? Memang cowok itu ganteng juga kalo diperhatikan. Aku jadi luluh melihatnya. Beginilah aku, gampang sekali suka sama cowok. Eit! Bukan berarti gampangan loh…
Sudah 2minggu aku jadi anak kelas 3. aku sudah bosan melihat tampang Vino. Ini penyakit keduaku, selain gampang jatuh cinta, aku juga gampang bosen sama cowok.
“Eh, dapet salam tuh dari Vino.” Kata Endro teman sebangku Vino yang super kocak plus menjijikan. Aku tidak mungkin mempercayai mulut somplaknya.
“Gimana? Salam balik nggak?” aku tidak mempedulikan kata-katanya.
Endro memutar kepalaku sampai padangan mataku kea rah Vino yang tersenyum malu. Menjijikan!
“Ngapain sih lu muter-muterin kepala gue! Lu sengaja ya biar pal ague patah?”
Endro malah nyengir. Aku malas meladeninya. Setiap hari Endro selalu menyampaikan salam dari Vino untukku. Entah mengapa aku jadi tidak tertarik dengan Vino. Kadang aku mendengan dari Endro kalau Vino suka benaran sama aku. Aku memang manis, tapi sama sekali nggak cantik.
Aku merasa ada yang aneh dengan Vino. Dia jadi jarang memperhatikanku lagi. Sejak hari ini.
***
“Sisi… dia suka sama gue…” aku baru sempat curhat tentang hal ini pada Sisi.
“Vino… dia suka sama gue!” aku memang plin-plan. Sebentar benci sama Vino, kadang suka seneng sendiri kalau Vino suka padaku.
“Vino?Vino yang mana?” tanyanya. Sisi mungkin belum kenal.
“Entar deh kalo ada Vino-nya gue kasih tahu.”
“Hai, Si.” Seseorang tiba-tiba menepuk bahu Sisi. Bola mataku hampir keluar. Dia Vino!
Vino sempat kaget juga melihatku di sana. “Hai, Nara.” Aku tahu dia terpaksa menyapaku.
“Vin, kamu jadi kan nanti malem nelpon aku?” Vino langsung mengangguk dan pergi dari situ.
Wajahku sudah suram. Telepon? Jadi Sisi dan Vino sering telpon-telponan.
“Sejak kapan lu kenal sama dia?” tanyaku.
“Baru-baru ini kok. Dan baru-baru ini gue jadian sama dia!” ingin sekali aku pingsan saat itu juga.
“Oh, iya. Tadi lu bilang kalau Vino suka sama lu. Bukan Vino cowok gue kan?”
Iya! Emang Vino cowok lu! Ingin sekali aku menjawab seperti itu. Tapi tidak, aku hanya menggelengkan kepala. Aku berjalan lunglai menuju perpustakaan. Aku memang cewek tersial se-Indonesia. Padahal aku baru sadar sebenarnya aku juga suka sama Vino. Ah… aku memang sial.
BRUK! Lagi-lagi aku menabrak orang. Aku kembali berjalan tanpa meminta maaf pada orang yang ku tabrak. “Eh, tunggu! Ada yang jatuh nih.”
Wow! Dia ganteng, cute dan wangi. Aku dapat merasakan tangannya yang lembut sambil memberikan saputanganku yang tadi terjatuh saat tabrakan dengannya. Apa aku akan jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Dia tersenyum padaku dan berlalu dari hadapanku. Aku terpesona. Oh… tidak.Mudah-mudahan saja dia tidak bakal jadian dengan temanku ya Tuhan…!
_The End_
Sejatinya Cinta Sejatinya Sahabat?
Ia menatapku lirih, matanya seolah ingin membunuhku. Larsya dua hari lalu putus dengan Rio, pacarnya. Lexsi adalah peghancur hubungan mereka, orang paling brengsek yang menggangu hubungan mereka, dan orang itu gak lain dan gak bukan adalah aku sendiri. Wajar saja kalau Larsya sangat membenci diriku. Semua ini dimulai karena kesalahanku telah mencintai pacar sahabatku sendiri.
Tapi itu semua bukan salajku sepenuhnya. Aku memang menyukai Rio sebelum aku mengenal Larsya. Dan saat itu yang aku tahu Rio hanya menganggapku sebagai temannya. Hanya teman. Ketika aku mulai mengenal Larsya dan mulai menjalin persahabatan dengannya, disitu juga aku baru tahu kalau sahabatku Larsya menyukai orang yang sama denganku. Dan tentu cowok itu adalah Rio. Cowok yang pernah aku gebet sejak kelas 1 SMA sampai sekarang aku kelas 3pun masih menyimpan rasa suka pada Rio (tanpa Larsya tahu tentunya). Hatiku makin hancur ketika Larsya memohon padaku untuk menyatukan mereka. Andai Larsya tahu kalau saat itu aku menyukai Rio, dia pasti langsung membenciku. Saat itu aku sangan kecewa dengan sahabatku sendiri tapi entah kenapa aku sulit membencinya. Entah makhluk apa yang memasuki tubuhku, aku bersedia menjadi mak comblang mereka. Ini gila. Aku memang bodoh saat itu. Tapi aku nggak bisa kehilangan sahabatku. Larsya lebih berarti dibandingkan Rio. Dan aku berhasil menyatukan mereka.
Ternyata mengubur masa lalu itu amat sulit. Sejak Larsya berpacaran dengan Rio, otomatis aku tambah dekat dengan Rio, apalagi saat Rio tahu aku adalah sahabat Larsya, dia jadi sering mengobrol denganku. Mengobrol tentang Larsya tentunya.
Saat itu Rio mengajakku nonton (aku sama sekali nggak senang karena bukan kencan tetapi ia ingin bercerita tentang Larsya), hatiku benar-benar hancur.
Saat itu aku benar-benar bodoh. Aku nggak bisa menyimpan perasaan ini. Ini benar-benar penyiksaan bagiku. Tanpa aku berfikir 2kali, aku hamper membuka hati padanya.
Setelah nonton kami menyempatkan makan malam dengannya.
“Yo, lu nyadar gak sih?”
Rio bingung dengan ucapanku. “Nyadar?”
“Hhh… lu sayang banget ya sama Larsya?”
“Yaiyalah… emang kenapa seh?”
Aku diam sejenak. “Gue… gak jadi deh.”
“Ya udah kalo gak jadi.” Katanya.
“Tapi, Rio. Gue…” baru saja aku ingin mengungkapkan isi hati ini, Handphone Rio berbunyi. Aku tahu kalau yang menelepon Rio adalah Larsya. Wajah Rio langsung cerah ketika mengangkat telpon tersebut.
“Lex, kita kerumah Larsya yuk. Katanya dia sendirian tuh dirumah.”
Aku langsung mengangguk pelan. Abis mau bagaimana lagi. Aku memang bodoh.
***
“Hai, Lexsi.” Sapaan itu terlalu manis didengar, sampai-sampai kuping ini jadi panas.
“Lex, kenapa sih? Dingin banget sama gue?” dia pasti bisa mengerti dengan wajah jutekku ini. Aku sedang marah. Tapi, sepertinya Larsya nggak akan peduli.
Aku benar-benar iri dengan apa yang Larsya punya. Bodi yang membentuk, kulit yang putih, ,mata yang indah. Sedangkan aku, semangkuk mie besar yang nggak laku karena issu tentang formalin.
“Lex, besok kan sebulan gue sama Rio jadian. Gue pengen dinner sama dia. Lu ikut ya? Lu harus ikut karena lu adalah mak comblang perfesional.” Katanya. Aku benci dengan kalimat itu. Ya, aku adalah mak comblang paling nelangsa.
“Lex, Lu jawab napa? Daritadi Cuma cemberut. Lu kenapa sih?”
“Gue nggak kenapa-napa.” Aku harus cepat pergi dari sini.
***
Malam ini. Malam yang akan aku dibenci. Aku harus melihat mereka berduaan. Penting ya? Kenapa coba aku harus diajak.
Emangnya penting apa hari jadian dirayain. Tradisi siapa sih tuh?
Rio… itu cumin nama yang akan muncul dalam mimpiku.
Setelah mereka berdua seneng-seneng. Rio yang mengantarku pulang sampai rumah, setelah mengantar Larsya tentunya tentunya. Sejujur-jujurnya aku benar-benar senang. Aku hanya berdua dengan Rio…
“Lex, thanks yah…” waw…!! Hatiku bergetar cepat.
“Makasih udah nyatuin gue sama Larsya. Kalo nggak ada lu… gue nggak tahu harus gimana. Gue sangat bahagia bisa hadir dikehidupan Larsya.” Aku benci ucapan itu. Oye… inilah aku selalu mendapat pujian dari mereka berdua karena kebodohanku menyatukan mereka.
Tanpa sadar aku cepat keluar dari mobil Rio dan membanting pintu mobil dengan keras. Pasti iiRio sangat kaget. Ini sudah keterlaluan. Aku sangat kecewa. Mereka egois! Nggak ngerti apa kalo gue bête harus selalu ikut mereka nge-date. Yah sejak mereka pacaran. Mereka selalu ngajak aku ikut nge-date. Gimana nggak bête coba?
***
Hari-hari ini aku memang tampak jutek kalau berhadapan dengan Larsya dan Rio mereka sih nyadar dengan keanehanku. Tapi, seperti biasa mereka nggak pernah peduli!
Aku benci wajah ini. Wajah bahagia Larsya. Larsya nggak henti-hentinya nyebut nama Rio. Walaupun wajahku sudah masam. Sama sekali dia nggak peduli. Aku sudah kecewa. Ini sudah keterlaluan. Aku nggak bisa diam saja.
“Sya, kapan lu mutusin Rio?”
Aku sudah tahu apa yang akan diperlihatkan wajah Larsya. “Putus.”
“Iya itu yang gue inginkan.” Jawabku super ketus.
Upss… omonganku terlalu cepat. Rio ada disampingku. kenapa dia harus dengar ucapanku tadi.
“lu seneng kita putus lex?”
Aku nggak bisa ngomong apa-apa. Kering di badanku sudah mengucur deras. Aku terduduk kakuh di antara mereka. Dan larsya mulai menangis. Aku paling benci bagian itu. “lex, lu seneng y ague putus sama rio? Kenapa lex?”
“gue suka sama rio. Sebelum gue kenal lu gue dach suka sama rio. Gue kecewa sama lu harus ngeliat kalian berduaan dihadapan gue. Kalian nggak pernah tau isi hati gue. Kalian nggak pernah peduli hal itu.”
Aku mencoba berlalu dari mereka. Keputusan ini sudah mejauhkan aku dengan mereka. Aku merasa kehilangan larsya, sahabat terbaikku (kecuali bagian ngerebut gebetan aku).
Sejak kejadian itu larsya benar-benar menghindar dari ku termaksud hari dia benar-benar marah padaku. Aku mencoba menuliskan kata-kata sebuah kertas, tulisannya: “AKU KEHILANGAN SESEORANG BUKAN CINTA MELAINKAN PERSAHABATAN. AKU KEHILANGAN KAMU SYA. AKU RELA NGELIAT LU PACARAN SAMA RIO DIDEPANKU. ASALKAN KAMU NGGAK NGEJAUH KAYAK GINI. YANG GUE BUTUHIN CUMA LU!” Setelah membaca surat itu Larsya mulai tersenyum kearahku dan memberiku secarik kertas kecil dihadapanku. Bertuliskan, “You’re my The Best Friend in my Heart.”
Larsya memang sahabatku. Aku akan mengorbankan kebahagiaanku demi seorang sahabat. Tidak ada yang lebih indah daripada kehadiran seorang sahabat.



Posted by putri on December 22, 2009 at 3:53 am
cerpennya bagus niii…
bkind sendiri ???
Posted by Oktavianiie on December 28, 2009 at 8:35 am
hu’uh… pngalaman pribadi atuh te… hahahaha,,, tp waktu SMP… hehe