Well… hari ini mungkin hari terbaik untuk perkenalan. Perkenalan teman-teman baruku di kampus baruku juga tentunya. Gak pernah kebayang aku bakal ninggalin keluarga tercinta untuk menuntun ilmu di luar kota. Bandung. Kota tempat ku sekarang menuntut ilmu dan menuntuk segalanya yang aku inginkan. Hahaha.
Tempat terlembap yang aku tinggali ini cukup sudah mendinginkan otakku yang kadang memang susah berjalan. Hei. Jangan anggap aku tak punya otak yah! Aku punya kok walaupun kadang juga sering sulit dipergunakan. Okey. Aku sadar kapasitas otakku setara dengan flash disk 1GB yang hanya cukup menampung 50lagu saja. Tapi kalau tidak ada tekanan mungkin kapasitasnya bisa naik up to 2GB. Haha. Aku tidak ingin bercanda tapi beginilah aku. Gadis yang sedang-sedang saja dalam berbagai hal. Karna otakku yang kapasitasnya terbatas mungkin itu salah satu sebab mengapa aku ditolak berbagai ribu Universitas Negri di Indonesia (Lebay).
“Tano…………” akh, itu pasti Naswa.
Mo pa sih dia?
“Tano ku sayang, sedang apa dirimu menatap langit yang gak cerah sama sekali ini? Membosankan melihatmu memandang hal yang gak perlu dipandang seharusnya. Tapi, well… mungkin kau hanya perlu mengistirahatkan otakmu sejenak.” Konyol.
Aku hanya mengernyitkan dahi. Naswa memang kadang aneh. Walaupun dia sering menyebalkan tapi di adalah teman baruku di tempat ini. Naswa wanita cantik berdarah Palembang. Cerewet. Satu kata untuk menggambarkannya. Matanya cokelat. Banyak yang naksir dia semenjak dia kuliah di tempat ini. Tapi ya entahlah. Sepertinya tidak ada pria muda disini yang srek di hatinya.
“Tania Feronica Luisssssssssssssssss………….” Akh, selalu saja menyebutkan namaku seperti itu. “Kau tau tidak dosen sastra kita kecelakaan. Dia gak ngajar deh. Aku sangat bahagia.”
“Huss… sembarang lo. Ada orang kena musibah lo malah bahagia.” Walaupun aku juga begitu.hehe.
Cara bicara Naswa amat sangat sesuai EYD mungkin. Mungkin karna kebiasaan di tempat asalnya yang selalu menggunakan kata-kata paling sopan itu bagiku.
Hari ini aku dan Naswa janjian nonton film teranyar saat ini. Ini pertama kalinya aku akan nonton di tempat tinggalku sekarang. Untuk aku sudah hapal jalanan pusat Bandung ini. Banyak orang yang bilang film yang akan kami tonton itu bagus. Tapi nggak tahu juga nih?
Aku sudah menunggu teman manisku itu didepan bioskop. Tapi dia belum muncul-muncul juga. Dasar Naswa orang paling tidak ONTIME! Aku mulai kesal. Aku la ngsung mengambil handphone di dalam tas kecilku. Langsung ku cari nomor Naswa di daftar telepon.
“Naswa!” tanpa halo aku meneriakan namanya di telepon.
“Hm?” jawab Naswa di ujung telpon.
“Lu dimana? Gue udah nungguin lu daritadi. Filmnya uda mau mulai nih!”
“Ya ampun. Naswa lupa… Naswa sedang menjaga keponakan Naswa di Rumah sakit. Maafin Naswa yah? Naswa tidak bisa menemanimu… Tania nonton sendiri saja yah?” emang Naswa punya keponakan di Bandung? Dia kan orang Palembang? Malas aku memikirkannya.
“Ya udah!” aku langsung memutus sambungan telepon.
Aku amat benci hari ini. Seenaknya saja Naswa membatalkan janji yang sudah dia buat sendiri. Aku kan sudah jauh-jauh datang kesini. Menghabiskan uang Rp5000,- untuk biaya angkot! Aku sudah tidak bersemangat nonton film-yang katanya seru itu.
Tanpa sadar dihadapanku sudah ada cowok lumayan ganteng. Dia masih memandangiku. Entah apa yang ia pikirkan?
“Hey?” dia bicara padaku sepertinya. “Kamu kenapa? Mau nonton? Nungguin teman?”
Aku menjawabnya dengan gelengan.
“Terus?” tanyanya lagi padaku.
“Gak ada terusnya.”
“Oh…” dia berhenti bertanya. Tapi tidak sepertinya. Tiba-tiba dia menyodorkan sebuah tiket. Tiket nonton yang jelas.
“Buat kamu!”
Aku tak bergerak sama sekali. Aku hanya bengong seperti orang bodoh dihadapannya.
“Ini buat kamu. Tadinya sih aku membelikan tiket itu untuk temanku. Tapi dia gak datang sepertinya.”
Aku masih diam.
Dia langsung menaruh tiket itu di telapak tanganku yang kecil. “Ayo! Filmnya udah mau mulai.” Dia langsung menarik tanganku masuk kedalam teater nomor 2 bioskop tersebut.
Akhirnya aku mendapatkan teman nonton juga. Walaupun enggak nyangka akan apa yang terjadi ini.
Selama film yang seru itu mulai kami berdua menontonnya sambil mendiskusikan film seru tersebut. Aku juga baru tahu kalau film yang ku tonton ini ternyata film drama romantis. Makin romantic karena aku nonton bareng cowok ganteng disebelahku.
Aku merasa nyaman didekatnya. Kami mulai nyambung dalam beberapa hal. Kami mempunyai hobby yang sama. Makanan favorite yang sama sampai warna kesukaan yang sama.
Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Pada waktu kurang lebih 2 jam sampai film tersebut habis yang artinya memisahkan kami berdua. Kenapa film itu hanya berdurasi 2 jam. Kenapa tidak 5 jam sehingga aku bisa lebih lama berada disampingnya.
Kami berdua keluar dari bioskop. Dia mengantarkanku kedepan mall dimana bioskop itu berada. Baik sekali orang ini.
“Sampai sini aja nggak papa kan?” katanya sambil memperlihatkan wajah tampannya.
“Kamu nggak bareng pulangnya?” tanyaku.
“Oh. Nggak. Aku masih nunggu seseorang.”
“Oh…”
“Bye…!” katanya sambil melambaikan tangannya sambil berbalik badan membelakangiku.
Oh tuhan… aku masih ingin bersamanya. Satu jam lagi saja nggak papa kok… tapi nggak mungkin. Aku mulai membalik badanku membelakanginya juga. Aku mulai melangkah kecewa. Kira-kira 5 langkah aku mulai menghentikan langkahku. Ada yang lupa aku tanyakan pada orang itu. Namanya. Rumahnya. Nomor yang bisa aku hubungi mungkin.
Aku langsung membalikkan badanku kembali mencoba mencari sosoknya yang ku pikir belum jauh dari tempatku berada.
Aku mulai mencari sosok ganteng yang tingginya sekitar 172cm itu. Mataku mulai menerawang diantara bejibun manusia di pintu masuk Mall teramai di kota Bandung.
Aku mulai menemukan sosoknya. Dan seketika hatiku hancur berkeping-keping. Ku melihatnya menghampiri seorang gadis yang cantik menurutku. Ia langsung mencium kedua pipi merah gadis tersebut. Dan langsung menggandengnya dengan hangat. Pasti gadis itu amat beruntung karena hari ini kan sedang musim hujan. Jadi cuaca amat dingin.
Ingin sekali aku menghampirinya dan bertanya siapa gadis yang ada dalam gandengannya. Aku tidak dapat melihat jelas wajah gadis itu. Tapi aku bisa menyimpulkan kalau gadis itu cantik. Tapi tidak mungkin bagiku. Itu hanya akan memalukan derajatku.
Aku pulang. Aku pulang membawa kekecewaan diatas angan-angan dapat memiliki CINTA PANDANGAN PERTAMA-ku… hanya satu yang kusesalkan. Aku masih belum tahu siapa namanya. Siapa nama lelaki tampan itu? Siapa namanya? Itu akan menjadi sebuah misteri. Dan akan kukubur kenangan indah DUA JAM ini di relung hatiku terdalam.


